Musim Premier League 2025-26 dalam Sebuah Review
Premier League 2025-26 baru saja usai, dan seperti biasa, musim ini menyajikan drama, kejutan, serta performa gemilang dari para pemain dan pelatih. Dalam review Premier League 2025-26 ini, kami merangkum pendapat para pengamat sepak bola terkemuka untuk menentukan siapa pemain terbaik, manajer terbaik, gol terindah, pertandingan paling seru, hingga transfer paling mengesankan dan kekecewaan terbesar. Simak ulasan lengkapnya.
Pemain Terbaik Musim Ini
David Raya, kiper Arsenal, menjadi sorotan utama. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik oleh sejumlah jurnalis berkat kontribusinya yang krusial dalam membawa Arsenal meraih gelar juara. Raya memenangkan Sarung Tangan Emas ketiga berturut-turut dengan 19 clean sheet. Ia dinilai sebagai sosok yang menentukan di momen-momen penting, seperti penyelamatan gemilangnya saat melawan West Ham.
Namun, bukan hanya Raya yang menonjol. Declan Rice dari Arsenal dan Bruno Fernandes dari Manchester United juga mendapat banyak pujian. Rice dianggap sebagai jantung perjuangan Arsenal, baik dalam penguasaan bola maupun organisasi pertahanan. Sementara Fernandes, meskipun bermain di tim yang kerap inkonsisten, tetap menjadi sumber kreativitas dan harapan bagi Manchester United. Beberapa pengamat juga menyebut Antoine Semenyo (Bournemouth/City), Gabriel Magalhães (Arsenal), dan Jérémy Doku (Manchester City) sebagai pemain yang tampil impresif.
Pendapat Para Ahli
- David Raya dinilai sebagai pemain paling menentukan dalam perebutan gelar.
- Declan Rice menjadi pemimpin lapangan yang tak kenal lelah.
- Bruno Fernandes disebut sebagai pemain terbaik Manchester United dalam enam setengah tahun terakhir.
- Antoine Semenyo mencetak 21 gol, termasuk gol kemenangan di final Piala FA.
Manajer Terbaik
Mikel Arteta akhirnya berhasil melepas label “hampir juara” dengan membawa Arsenal menjuarai Premier League. Ia dinilai berhasil mengalahkan Pep Guardiola dengan ketenangan dan kendali penuh. Arteta disebut sebagai tokoh kunci di balik transformasi Arsenal menjadi tim juara.
Namun, Régis Le Bris dari Sunderland juga layak mendapat aplaus. Ia membawa tim promosi ke Liga Europa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, dengan penjualan pemain kunci senilai £250 juta. Andoni Iraola dari Bournemouth juga sukses membawa timnya ke posisi keenam dan lolos ke Eropa. Unai Emery di Aston Villa dan Daniel Farke di Leeds juga mencatatkan pencapaian luar biasa.
Prestasi Manajer Lainnya
- Régis Le Bris: dari play-off ke Liga Europa, dengan 14 pemain anyar.
- Daniel Farke: nyaris dipecat, lalu mengubah taktik dan menyelamatkan Leeds.
- Michael Carrick: membangkitkan Manchester United ke peringkat ketiga setelah kekacauan Amorim.
Gol Terbaik Sepanjang Musim
Banyak gol indah tercipta musim ini. Dominik Szoboszlai (Liverpool) mencetak free-kick spektakuler dari jarak 35 yard ke gawang Arsenal. Kaoru Mitoma (Brighton) meniru Marco van Basten dengan voli back-post sempurna ke gawang Tottenham. Harrison Reed (Fulham) mengejutkan Liverpool dengan tembakan mendatar di menit ke-97. Rayan Cherki (Manchester City) melewati empat pemain Arsenal sebelum mencetak gol. Emi Buendía (Aston Villa) mencetak gol indah berkat kerja sama tim yang apik.
William Osula (Newcastle) juga mencuri perhatian dengan gol kemenangan di masa injury time melawan Manchester United. Setiap gol memiliki cerita unik, tetapi yang paling sering disebut adalah Cherki, Mitoma, dan Reed.
Pertandingan Terbaik
Musim ini penuh dengan laga sengit. Pertandingan Manchester United vs Bournemouth yang berakhir 4-4 di Old Trafford disebut sebagai “demam gol” yang tak terlupakan. Fulham vs Manchester City (4-5) juga menjadi tontonan kelas atas, dengan City nyaris kehilangan keunggulan 5-1. Liverpool vs Manchester City (1-2) menghadirkan drama VAR dan kartu merah. Newcastle vs Leeds (4-3) menyajikan 10 menit injury time yang gila dengan tiga gol di akhir laga.
Laga Crystal Palace vs Bournemouth (3-3) dinilai sebagai pertandingan yang mewakili esensi Premier League: drama, VAR, dan serangan balik mematikan.
Pembelian Terbaik
Granit Xhaka menjadi inspirasi utama di Sunderland. Didatangkan dari Bayer Leverkusen seharga £13 juta, ia langsung menjadi kapten yang membawa tim promosi ke Liga Europa. Dominic Calvert-Lewin (gratis ke Leeds) mencetak 14 gol dan menjadi pahlawan keselamatan. Adrien Truffert (Bournemouth) dan Eli Junior Kroupi (Bournemouth) juga tampil gemilang sebagai pemain baru murah meriah.
Senne Lammens (Manchester United) membuktikan bahwa kiper yang bisa menyelamatkan tembakan sangat berharga. Rayan Cherki (City) dan Viktor Gyökeres (Arsenal) juga memberikan kontribusi signifikan.
Flop Terbesar
Liam Delap (Chelsea) hanya mencetak satu gol setelah musim lalu 12 gol di Ipswich. Alexander Isak (Liverpool) yang dibeli £125 juta absen panjang karena cedera dan tampil mengecewakan. Chelsea secara keseluruhan finis ke-10 setelah menghabiskan dana besar. Tottenham dan West Ham juga mengecewakan. Ange Postecoglou di Nottingham Forest disebut sebagai salah satu penunjukan terburuk dalam sejarah Premier League.
Manajer Ruben Amorim di Manchester United juga menjadi sorotan karena tidak memberi menit bermain kepada Kobbie Mainoo, yang kemudian bangkit setelah Carrick datang.
Keluhan Terbesar
VAR terus menjadi sumber frustrasi. Aturan handball yang rumit dan pengumuman wasit yang dipasangi mikrofon kerap membingungkan. Pemilik klub kaya yang tidak peduli pada suporter juga dikritik, terutama David Sullivan di West Ham dan Sir Jim Ratcliffe yang melontarkan pernyataan kontroversial. Selain itu, jadwal yang padat dan kurangnya kepedulian terhadap suporter tradisional—seperti pemotongan konsesi anak-anak dan waktu kick-off yang tidak ramah—menjadi masalah besar.
Para komentator juga dianggap terlalu banyak bicara, terutama Ally McCoist. Sementara itu, tren “grappling” di kotak penalti dan ketergantungan pada set-piece dinilai merusak keindahan sepak bola.
Kesimpulan
Musim Premier League 2025-26 memberikan banyak cerita: Arsenal akhirnya juara, Sunderland menjadi kuda hitam, dan Manchester United mulai bangkit. Namun, di balik gemerlapnya, masih ada masalah struktural yang perlu diperbaiki. Review Premier League 2025-26 ini menjadi catatan bahwa sepak bola Inggris tetap kompetitif, tetapi perlu menjaga keseimbangan antara bisnis dan akar rumput. Sampai jumpa musim depan!
