Start Chelsea Premier League: Sempurna Tapi Belum Serius

Dua Laga, Dua Kemenangan, Enam Poin Sempurna

Start Chelsea di Premier League musim ini berjalan nyaris tanpa cela. Dua pertandingan yang sudah dijalani di bawah komando Xabi Alonso berujung dua kemenangan dengan total tujuh gol yang dicetak. Start seperti ini tentu membuat senang manajer mana pun, terlebih hanya dua klub lain yang mampu mengumpulkan enam poin penuh di awal musim—Arsenal masih akan bermain pada Senin malam.

  • Dua kemenangan dari dua pertandingan pertama
  • Tujuh gol dicetak, tetapi lima gol juga kebobolan
  • Enam poin penuh yang hanya ditandingi dua klub lain sejauh ini

Poin yang diraih pada fase transisi awal musim seperti ini bisa menjadi modal yang sangat berharga di akhir kompetisi nanti. Meski begitu, catatan lima gol kebobolan dalam dua laga menjadi alarm yang tak bisa disepelekan. Chelsea tampil sangat terbuka, dan itu adalah persoalan yang harus segera dibenahi sebelum menghadapi lawan-lawan yang lebih berat.

Kualitas Lawan: Realitas yang Perlu Dipertimbangkan

Ada dua sisi yang harus dilihat dari start Chelsea di Premier League yang sempurna ini. Pertama, musim memang masih berlangsung sangat awal dan Chelsea selalu mengalami banyak perubahan setiap tahunnya, sehingga masuk akal bila mereka akan tampil lebih padu seiring berjalannya waktu. Kedua, ada realitas yang tak bisa diabaikan tentang siapa saja lawan yang sudah mereka kalahkan.

Brighton, misalnya, datang ke Stamford Bridge tanpa tujuh pemain inti mereka, tetapi tetap mampu mencetak tiga gol ke gawang Chelsea. Fulham juga tampak sangat hidup saat kalah 3-2 dari Chelsea di pekan pembuka, tetapi kemudian tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran ketika bertemu Sunderland. Sunderland sendiri sebelumnya kalah di Ipswich, tetapi tiba-tiba mampu mendominasi lini tengah saat melawan Fulham, dan sebagian orang bertanya apakah itu terjadi karena imbauan Granit Xhaka agar mereka tampil percaya diri lagi. Pada tahap awal musim seperti ini, sangat sulit menarik pola yang jelas: seberapa bagus Brighton sebenarnya, atau apakah Aston Villa hanya tampil buruk di pekan perdana. Yang jelas, penampilan Xhaka melawan Fulham menunjukkan alasan Chelsea ingin merekrutnya di bursa musim panas.

Granit Xhaka dan Kontrol yang Tak Dimiliki Chelsea

Salah satu ironi dari dua laga pembuka ini adalah sosok Granit Xhaka yang tampil cemerlang bersama Sunderland. Penampilannya saat melawan Fulham memperlihatkan dengan jelas alasan Chelsea menginginkannya di bursa musim panas. Xhaka bersama rekan setimnya di lini tengah, Noah Sadiki, mampu memberikan level kontrol permainan yang justru belum terlihat dari Chelsea asuhan Alonso.

Kedua pertandingan Chelsea sejauh ini terasa seperti parodi Bundesliga modern: tempo tinggi, bola cepat berpindah, dan pertarungan satu lawan satu yang intens. Semuanya berjalan semrawut, menghibur, dan terasa belum sungguh-sungguh. Ini jelas bukan cara bermain yang diinginkan Alonso, yang pernah membawa Bayer Leverkusen juara Bundesliga 2024 dengan hanya kebobolan 24 gol dalam 34 laga.

Possession 32 Persen: Jauh dari Standar Alonso

Perbedaan paling mencolok antara Chelsea sekarang dan Leverkusen milik Alonso ada pada penguasaan bola. Leverkusen rata-rata mencatat 59,5 persen penguasaan bola sepanjang musim juara mereka, sementara Chelsea musim ini baru mencatat 32 persen. Ini menunjukkan bahwa struktur permainan yang dibangun Alonso belum sepenuhnya terbentuk di Stamford Bridge.

Kembalinya Moisés Caicedo dari cedera mungkin akan membawa perbaikan langsung, tetapi ia baru bermain 14 menit dari bangku cadangan pada laga akhir pekan sebelum terpaksa keluar lagi. Cara Fulham dan Brighton membelah pertahanan Chelsea menunjukkan ada masalah struktural yang lebih dalam daripada sekadar masalah kebugaran pemain. Perbaikan individu tidak otomatis menyelesaikan akar masalah yang ada di level kolektif.

Formasi 3-4-2-1 yang Berbeda dari Biasanya

Kritik yang biasa ditujukan pada formasi 3-4-2-1 adalah bentuknya yang terlalu kaku, di mana kreativitas hampir sepenuhnya bergantung pada dua inside-forward. Ini membuat tim yang memakainya mudah ditebak dan cenderung dijadikan sistem untuk serangan balik, seperti yang dilakukan Oliver Glasner di Crystal Palace dua musim terakhir. Dua gelandang bertahan di depan tiga bek seharusnya membentuk trapesium yang menjadi bentuk dasar untuk melindungi diri dari serangan balik.

Namun, formasi yang dipakai Alonso bukanlah versi yang kaku itu. Ia justru menjadikannya basis dari berbagai variasi yang membuat tim tidak bergantung sepenuhnya pada dua inside-forward. Contohnya ketika bek tengah Maxence Lacroix maju menembus lini pertahanan Fulham untuk membuka peluang gol, sebuah pola yang memang sengaja dirancang.

Sayangnya, variasi yang menghidupkan serangan ini justru membuat pertahanan rawan. Dengan Roméo Lavia yang beroperasi di samping Reece James atau Malo Gusto, soliditas yang diharapkan dari formasi ini belum terlihat sama sekali. Inilah paradoks yang harus segera dipecahkan Alonso: sistemnya subur dalam menyerang, tetapi rapuh dalam bertahan.

Masalah Pertahanan Chelsea Sudah Ada Sebelum Alonso

Chelsea belum pernah mencatat clean sheet dalam 18 pertandingan terakhir di semua kompetisi, dan itu adalah rentang terpanjang mereka di kasta tertinggi sejak 1961. Jadi, masalah ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum Alonso datang. Kedatangan Emí Martínez diharapkan memberi sosok kiper yang lebih tegas dan jarang melakukan kesalahan dibandingkan Robert Sánchez.

Meski demikian, dalam jangka pendek akan tetap ada masalah dalam menyeimbangkan posisi full-back. Pertahanan terbaik adalah pertahanan yang stabil, tempat kerja sama antarpemain berjalan otomatis tanpa perlu berpikir panjang. Lacroix adalah tipe bek tengah yang memang dibutuhkan Chelsea dan dalam jangka panjang hampir pasti membuat tim lebih baik, sementara Josh Acheampong yang tampil bagus melawan Fulham adalah pemain muda yang sangat menjanjikan meski baru tampil delapan kali sebagai starter di liga musim lalu.

Namun, menyatukan dua pemain baru itu sambil beradaptasi dengan kiper baru pasti membutuhkan waktu. Inilah harga yang harus dibayar Chelsea dari perubahan skuad yang terus-menerus terjadi setiap musim. Stabilitas adalah barang mewah yang belum bisa dinikmati klub asal London barat ini.

Arsenal: Ujian Sebenarnya bagi Start Chelsea Premier League

Laga melawan Arsenal pada hari Minggu akan menjadi ujian yang jauh lebih berat bagi start Chelsea Premier League musim ini. Trio depan Chelsea yang terdiri dari João Pedro, Morgan Rogers, dan Cole Palmer memberi mereka peluang untuk menang meski bukan sebagai favorit. Namun, ada kemungkinan besar Arsenal justru membuat mereka tidak relevan dengan mendominasi lini tengah.

Ini adalah pertemuan dua tim yang berada di tahap perkembangan yang sangat berbeda. Chelsea masih mencari bentuk permainan yang pas setelah berganti manajer dan banyak pemain, sementara Arsenal sudah jauh lebih mapan di bawah arahan yang stabil. Ujian melawan Arsenal akan menunjukkan apakah start sempurna Chelsea memiliki fondasi yang kokoh atau hanya sekadar keberuntungan di awal musim.

Pada akhirnya, start Chelsea di Premier League ini bisa dibaca dari dua sisi. Secara hasil, enam poin dari dua laga dengan tujuh gol adalah pencapaian yang sulit ditolak, apalagi mengingat musim baru selalu penuh ketidakpastian. Namun secara penampilan, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Alonso, terutama di sektor pertahanan.

Laga melawan Arsenal akan menjadi tolok ukur pertama yang sesungguhnya. Jika Chelsea mampu memberi perlawanan atau bahkan mencuri poin, maka start sempurna ini akan terasa lebih bermakna. Jika tidak, kekhawatiran tentang kelonggaran permainan mereka akan semakin sulit untuk dibantah.