Pengadilan Tinggi Inggris membatalkan keputusan Dewan Enfield yang mengizinkan Tottenham Hotspur membangun fasilitas latihan baru di Whitewebbs Park, London utara. Gugatan yang diajukan kelompok kampanye Guardians of Whitewebbs berhasil meyakinkan hakim bahwa proses perizinan itu cacat hukum karena dewan tidak memberikan informasi lengkap soal dampak lingkungan.
Latar Belakang Rencana Pembangunan
Tottenham Hotspur berencana menyewa lahan seluas 6,5 hektare (16 acre) di Whitewebbs Park selama 25 tahun sejak 2023. Rencana tersebut mencakup pembangunan sepuluh lapangan sepak bola dan fasilitas penunjang lainnya untuk akademi sepak bola wanita dan putri. Dewan Enfield, yang saat itu dikuasai Partai Buruh, menyetujui izin perencanaan pada Februari tahun lalu setelah resolusi disepakati.
Namun, kelompok Guardian of Whitewebbs menganggap keputusan itu tidak sah. Mereka mengklaim dewan melanggar aturan dengan tidak menyajikan seluruh dokumen relevan tentang dampak lingkungan kepada anggota dewan saat pengambilan keputusan. Hal ini disebut membuat para anggota dewan “terkesan secara material” sehingga keputusan menjadi bias.
Gugatan dan Argumen Hukum
Sidang di Pengadilan Tinggi London pada Juni lalu mengungkap fakta penting. Pengacara kelompok kampanye, Jenny Wigley KC, menyatakan bahwa laporan ahli ekologi Giles Sutton mengenai manfaat lingkungan proyek tidak diungkapkan secara utuh. Sutton memang tidak menentang proyek tersebut, tetapi ia menyebut klaim Spurs bahwa situs itu akan menguntungkan lingkungan lokal sebagai “kontraintuitif” karena sekitar 40% area taman akan hilang.
“Dalam opini saya, jika dewan menerima klaim tersebut, keputusan mereka bisa dengan mudah digugat,” tulis Sutton dalam laporannya. Namun, pejabat dewan dalam laporan perencanaan untuk anggota dewan justru menulis bahwa “tidak ada keberatan terhadap pembangunan yang diusulkan,” meskipun Sutton telah menyampaikan bahwa pandangannya tidak tercermin dalam laporan itu.
Wigley menambahkan bahwa laporan Sutton seharusnya disajikan sebagai “dokumen latar belakang” sehingga publik bisa memeriksanya. Ia mengecam praktik “salami slicing” di mana petugas perencanaan hanya mengungkap bagian laporan yang mereka setujui, sementara mengabaikan bagian yang tidak mereka setujui dari pengawasan publik.
Di sisi lain, pengacara Tottenham, James Maurici KC, membantah tuduhan tersebut. Ia menyebut pandangan Sutton hanyalah “pernyataan semata” dan kelompok kampanye gagal memberikan bukti bahwa mereka dirugikan oleh kegagalan dewan menyediakan dokumen. Maurici berargumen bahwa hasil keputusan “kemungkinan besar, bahkan pasti, akan tetap sama” meskipun dokumen itu disertakan.
Tuduhan bias juga menjadi isu utama. Kelompok Guardian of Whitewebbs mengklaim ada “kemungkinan nyata bias” karena Spurs memiliki akses tak tertandingi kepada pejabat senior dewan selama proses pengajuan. Namun, klub menyebut tuduhan itu “sangat berlebihan.”
Putusan Hakim
Pada Senin, Hakim Sir Tim Kerr memutuskan untuk membatalkan izin perencanaan tersebut. Ia menemukan bahwa ketidakpatuhan dewan terhadap aturan bersifat “serius” dan para anggota dewan “terkesan secara material” karena tidak disertakannya laporan Sutton. Menurut hakim, hasil keputusan “bisa saja berbeda” jika semua informasi relevan tersedia.
Namun, mengenai tuduhan bias, Hakim Kerr menolaknya. Ia menyebut argumen kelompok kampanye “lemah” dan mengatakan bahwa “hubungan yang bersahabat” antara dewan dan klub adalah “normal mengingat fungsi dan kepentingan yang tumpang tindih.”
Tanggapan Klub dan Dewan
Tottenham Hotspur sebelumnya telah setuju menyewa lahan tersebut pada 2023, sebuah keputusan yang sempat digugat namun gagal di Pengadilan Tinggi pada 2024. Klub terus menentang gugatan baru ini, tetapi pengadilan akhirnya memenangkan kelompok kampanye. Spurs tidak memberikan komentar langsung pasca putusan.
Sementara itu, Alessandro Georgiou, pemimpin konservatif Dewan Enfield yang mulai menjabat sejak Mei 2026, menyambut baik keputusan tersebut. “Kami sangat senang. Kami menarik pembelaan kami karena tidak akan sejalan dengan kepentingan terbaik warga di seluruh borough. Kami bilang akan melindungi Whitewebbs Park dari proposal yang tidak dapat diterima ini, dan sekarang kami akan melangkah maju dengan rencana yang mencerminkan kebutuhan masyarakat lokal sekaligus melestarikan dan melindungi area penting Enfield ini,” ujarnya.
Kesimpulan
Putusan Pengadilan Tinggi ini menegaskan bahwa transparansi dalam proses perizinan pembangunan sangat penting, terutama ketika melibatkan ruang hijau publik. Gugatan terhadap rencana fasilitas latihan Tottenham Hotspur menunjukkan bahwa keputusan yang diambil tanpa informasi lengkap dapat dibatalkan di pengadilan. Bagi para penggemar dan pengelola klub, ini menjadi pengingat bahwa pembangunan besar seperti akademi wanita dan putri memerlukan perencanaan yang matang dan keterbukaan terhadap semua pemangku kepentingan. Sementara itu, masa depan Whitewebbs Park kini akan ditentukan kembali oleh Dewan Enfield dengan fokus pada kebutuhan komunitas lokal.
