UEFA dan Concacaf dikabarkan tengah membahas pembentukan Nations League gabungan yang akan mempertemukan seluruh 96 negara anggota dari Eropa, Amerika Utara, Tengah, dan Karibia. Rencana ini disebut sebagai tantangan langsung terbaru terhadap otoritas FIFA. Informasi tersebut diungkapkan oleh The Guardian berdasarkan sumber yang mengetahui langsung proposal tersebut.
Langkah ini muncul setelah kedua konfederasi bersatu mendorong pemecatan presiden FIFA, Gianni Infantino, menyusul kontroversi rencana penjualan hak siar Piala Dunia. UEFA dan Concacaf menilai posisi Infantino sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Keduanya bahkan dikabarkan sedang menyiapkan kandidat alternatif untuk melawan Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
Format Turnamen Nations League Gabungan yang Sedang Disusun
Menurut laporan yang beredar, kompetisi anyar ini akan digelar dua tahun sekali dan bisa mulai bergulir pada 2028, tepat setelah Euro berikutnya. Formatnya akan meniru sistem multi-liga yang sudah dipakai dalam Nations League Eropa dan Concacaf saat ini. Setelah fase liga selesai, akan ada babak gugur dan turnamen final empat tim untuk menentukan juara. Namun, jumlah tim di setiap level liga belum ditentukan karena pembahasan baru berlangsung intensif dalam beberapa pekan terakhir.
Meski pembahasan masih di tahap awal, seluruh 96 anggota UEFA dan Concacaf dipastikan terlibat dalam turnamen ini. Sebagian besar pendapatan kompetisi akan digabungkan sehingga memberikan tambahan pemasukan yang signifikan bagi negara-negara kecil. Bagi asosiasi yang selama ini kesulitan bersaing secara finansial, skema ini tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan.
Liga A: Raksasa Eropa Berjumpa Tim Utama Concacaf
Dalam rancangan awal, Liga A akan mempertemukan tim-tim papan atas Eropa seperti Spanyol, Prancis, Inggris, dan Jerman dengan negara-negara berperingkat tinggi Concacaf, yaitu Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Pertandingan liga yang kompetitif ini diyakini memiliki daya tarik komersial yang sangat besar. Laga rutin tim-tim besar Eropa melawan lawan-lawannya dari Amerika Utara akan menjadi tontonan menarik bagi pasar siaran dan sponsor.
Jadwalnya sendiri tetap menggunakan jeda internasional yang sudah disepakati: fase liga pada September, Oktober, dan November, lalu babak gugur pada Maret, dan final pada Juni. Karena pertandingan digelar dalam jendela internasional yang telah ada, belum jelas apakah turnamen baru ini perlu diratifikasi oleh FIFA. Namun, mengingat FIFA tengah menghadapi krisis kepemimpinan, persoalan ratifikasi itu bisa menjadi perdebatan yang tidak terlalu krusial.
Latar Belakang: Ketegangan UEFA-Concacaf dengan FIFA
UEFA dan Concacaf sebenarnya sudah menjalin kerja sama sejak lama, tetapi hubungan itu semakin erat setelah rencana Fifa Forward Enterprise muncul bulan lalu. Proposal yang disebut-sebut sebagai skema penjualan hak siar Piala Dunia itu membuat kedua konfederasi semakin lantang menyuarakan penolakan terhadap Infantino. Mereka kini bergerak bersama untuk mencari sosok pengganti yang layak diusung pada pemilihan presiden FIFA.
Perlu dicatat, UEFA dan Concacaf sama-sama meluncurkan kompetisi Nations League pada 2018. Keduanya juga sudah terbiasa menggelar laga dalam jendela internasional yang identik. Dengan demikian, mekanisme teknis yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan turnamen gabungan sebenarnya sudah tersedia sejak awal.
Dampak bagi Meksiko dan Potensi Perubahan Peta Kekuatan
Dari sisi komersial, salah satu pihak yang paling diuntungkan adalah Meksiko. Federasi sepak bola Meksiko (FMF) diketahui frustrasi dengan keterbatasan finansial yang mereka rasakan selama bermain di Concacaf. Bahkan, FMF sempat melakukan pembicaraan awal untuk hengkang dan bergabung dengan Conmebol, konfederasi Amerika Selatan, meskipun langkah itu tetap membutuhkan persetujuan FIFA.
Kehadiran format baru ini bisa mengubah sikap Meksiko secara drastis. Alih-alih pindah konfederasi, mereka kini punya peluang menikmati pendapatan besar dari laga melawan tim-tim Eropa tanpa harus meninggalkan Concacaf. Format ini juga menggantikan laga internasional yang sudah ada, bukan menambahnya, sehingga tidak membebani kalender pemain. Selain itu, pertandingan akan dibagi dalam blok geografis untuk mengurangi waktu perjalanan tim.
AFC Berminat dan Masa Depan Kompetisi Global
Menariknya, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga dikabarkan tertarik bergabung dalam kompetisi semacam ini di masa depan. Struktur turnamen yang sedang dibahas disebut cukup fleksibel untuk mengakomodasi kehadiran AFC. Namun, karena AFC saat ini tidak menjalankan Nations League sendiri, keterlibatan mereka masih merupakan aspirasi jangka panjang.
Sementara itu, UEFA menolak berkomentar, tetapi satu sumber yang mengetahui proposal tersebut mengonfirmasi bahwa pembahasan memang sedang berlangsung. Concacaf juga tidak memberikan komentar langsung, tetapi menyoroti komitmen jangka panjang mereka terhadap kolaborasi antar konfederasi. Komitmen itu sudah terbukti lewat kehadiran tim tamu di Piala Emas Concacaf selama bertahun-tahun.
Banyak tim Amerika Selatan pernah ambil bagian di turnamen tersebut berkat hubungan historis dengan Conmebol. Begitu pula Afrika Selatan, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Qatar yang pernah tampil sebagai tamu. Tradisi semacam ini memperlihatkan bahwa kerja sama antar konfederasi sebenarnya sudah mengakar lama.
Rencana Nations League gabungan UEFA dan Concacaf ini menjadi sinyal kuat bahwa dua konfederasi besar siap menantang dominasi FIFA di pentas sepak bola dunia. Dengan melibatkan seluruh anggota dan mempertemukan tim-tim terbaik dari dua benua, turnamen ini berpotensi mengubah peta kompetisi internasional secara fundamental. Bagaimana FIFA dan Infantino merespons tekanan ini akan menentukan arah sepak bola global dalam beberapa tahun ke depan.
Masih banyak detail yang harus diselesaikan, mulai dari pembagian jumlah tim di setiap liga hingga status ratifikasi FIFA. Namun satu hal yang sudah jelas: angin perubahan tengah berembus, dan UEFA bersama Concacaf bertekad menjadi penggeraknya.
