Luis de la Fuente: Lini Tengah Spanyol Terbaik di Dunia Saat Ini

Keyakinan De la Fuente pada Lini Tengah Spanyol

Pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, tak ragu menyebut lini tengah Spanyol sebagai yang terbaik di dunia saat ini. Dalam wawancara eksklusif di Dallas, ia menjelaskan mengapa para gelandang La Roja layak mendapat pengakuan tersebut. “Saya katakan ini dengan penuh rasa hormat kepada semua orang: kami memiliki lini tengah terbaik di dunia,” ujarnya.

De la Fuente merinci daftar pemain yang ia anggap luar biasa: Rodrigo, Zubimendi, Fabián, Pedri, Olmo, Merino, Baena, Gavi, dan Fermín (yang cedera). “Kami punya dua pemain di setiap posisi yang merupakan yang terbaik. Mereka bisa bersaing dengan era mana pun,” tambahnya. Ia pun membandingkan lini tengah Spanyol saat ini dengan generasi 2010 yang legendaris, yang berisi Xavi, Iniesta, dan Busquets. “Itu juga lini tengah yang luar biasa, tapi saya akan menempatkan kami hampir setara,” tegasnya.

Pedri, Pesulap di Lini Tengah

Salah satu pilar lini tengah Spanyol yang menjadi sorotan adalah Pedri. Ketika ditanya bagaimana Pedri bisa selalu tampak akan kehilangan bola namun tak pernah benar-benar kehilangan, De la Fuente tertawa dan menjawab, “Dia pesulap, benar-benar pesulap!”

Ia memuji teknik dan bakat Pedri yang luar biasa. “Saya punya guru di sekolah yang mendefinisikan teknik sebagai kemampuan menyelesaikan tugas tersulit tanpa usaha yang tampak. Itulah Pedri. Ia melakukan hal-hal yang sangat sulit dengan mudah. Hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Dia melihat umpan yang tidak dilihat orang lain. Itu keistimewaan para jenius,” jelas pelatih asal La Rioja itu.

Lamine Yamal dan Nasihat untuk Hadapi Nuno Mendes

Lamine Yamal, bintang muda Barcelona, pernah menyebut Nuno Mendes sebagai lawan yang paling ditakuti. De la Fuente memberikan nasihat sederhana untuk pemain mudanya itu. “Lamine sudah berkembang pesat sejak tahun lalu. Ia bukan pemain yang sama; ia lebih matang, lebih percaya diri, dan membaca permainan lebih baik.”

Pelatih berusia 63 tahun itu menyarankan, “Jadilah dirimu sendiri, nikmati sepak bola dengan tanggung jawab yang melekat. Itu yang paling penting.” Ia yakin pertandingan besar melawan lawan tangguh akan membentuk karakter Lamine, seperti yang terjadi pada pemain top lainnya.

Peran Borja Iglesias dan Pemain Lain

Terkait peran Borja Iglesias di skuad, De la Fuente menjelaskan bahwa semua pemain punya kontribusi meski tak selalu mendapat menit bermain. “Borja adalah pemain yang sangat penting. Ia selalu siap saat dibutuhkan. Suatu saat saya hampir memasukkannya, tapi situasi pertandingan berubah sehingga saya mengambil keputusan berbeda. Ini adalah grup yang siap bersaing kapan pun dibutuhkan,” ucapnya.

Sepak Bola sebagai Alat Integrasi

Menanggapi pertanyaan tentang bagaimana orang-orang jatuh cinta pada pemain seperti Cucurella, Yamal, Oyarzabal, dan Porro, De la Fuente melihatnya sebagai cermin globalisasi. “Sepak bola adalah cermin masyarakat. Ini alat integrasi yang kuat, sekolah nilai-nilai. Ada sisi buruk, tapi saya lebih suka fokus pada esensi positifnya: sepak bola menyatukan,” katanya.

Kata Favorit: Rasa Hormat

Ketika ditanya kata favorit dalam bahasa Spanyol, De la Fuente menjawab tanpa ragu, “Respect (rasa hormat). Dengan rasa hormat sebagai fondasi, Anda bisa membangun apa pun. Bangunan kehidupan bersama dibangun di atas dasar rasa hormat. Itulah kata kunci dalam hidup saya, dan juga yang paling sering saya gunakan dengan pemain, baik secara langsung maupun melalui sikap.”

Tantangan Terberat sebagai Pelatih Timnas

Menjadi seleccionador memiliki tantangan tersendiri. “Tugas paling penting dan tersulit adalah memilih pemain. Kami semua punya dasar taktik dan teknik, tapi memilih pemain yang paling sesuai dengan ide adalah bagian tersulit. Meninggalkan seseorang yang seharusnya bisa ada di sini adalah hal terberat,” ungkapnya.

Oyarzabal: Striker Serbaguna

Mengenai Mikel Oyarzabal, De la Fuente memujinya sebagai pesepak bola top yang bisa memainkan banyak posisi. “Dulu orang bilang Spanyol tak punya penyerang tengah. Sekarang ada, dengan profil berbeda. Oyarzalb bermain sebagai gelandang serang, sayap kiri, kanan, dan selalu tampil baik. Suatu hari ia akan jadi pelatih, karena ia membaca pertandingan dengan sangat baik.”

Inspirasi dari Tim Brasil 1982?

Ketika ditanya apakah ia terinspirasi oleh Tim Santana dan Brasil 1982, De la Fuente menjawab, “Saya kenal pemain saya dengan baik. Cara saya memahami sepak bola berevolusi karena mereka. Para pemainlah yang memaksa kami mengembangkan ide sesuai kualitas mereka. Saya punya dasar, tapi mereka menyempurnakannya. Pada akhirnya, bahan baku utamalah yang menjadi inspirasi.”

Pelatih yang gemar menyaksikan pertandingan timnas di rumah orang tuanya itu juga mengingat momen Piala Dunia favoritnya: gol Iniesta di final 2010. “Itu gambar Piala Dunia bagi kami,” kenangnya. Kini, ia bertekad membawa lini tengah Spanyol yang ia yakini terbaik di dunia menuju kejayaan lagi.