Cristian Romero Pamit dari Tottenham: Si ‘Pemain Tipe Itu’

Ungkapan “dia bukan tipe pemain seperti itu” adalah salah satu kalimat kosong paling terkenal dari komentator pendamping. Kalimat ini biasanya muncul setelah seorang pemain “baik hati” melakukan tekel brutal yang datang terlambat satu hari setelah bola meninggalkan lokasi. Padahal, jika kamu sudah melakukan tekel seperti itu, kamu memang pemain tipe itu, dan tidak ada yang lebih pantas menyandang label itu selain Cristian Romero.

Romero adalah bek Tottenham yang santer dikabarkan akan pindah ke Atlético Madrid. Sepanjang kariernya di Spurs, ia membangun reputasi sebagai pemain yang selalu berada di ambang kekacauan. Enam kartu merah bukanlah catatan yang bisa dianggap kebetulan.

Ungkapan “Bukan Tipe Pemain Seperti Itu” yang Tidak Pernah Masuk Akal

Komentator pendukung sering memakai kalimat itu untuk membela pemain yang baru saja melakukan pelanggaran mengerikan. Padahal faktanya, aksi tersebut justru membuktikan bahwa pemain itu memang tipe yang suka melakukan pelanggaran keras. Pernahkah kita mendengar komentator pendamping berkata, “begitulah, Brian, dia memang pemain tipe itu”? Tidak pernah.

Daftar pemain dengan kartu merah terbanyak di Premier League menunjukkan polanya: Richard Dunne, Duncan Ferguson, dan Patrick Vieira dengan delapan kartu merah, Lee Cattermole dan Roy Keane dengan tujuh, lalu Vinnie Jones, Joey Barton, dan Alan Smith (bukan Alan Smith yang itu) dengan enam. Kehadiran nama-nama ini memperkuat anggapan bahwa ada kategori khusus untuk pemain dengan agresivitas di luar batas. Cristian Romero jelas berada di tier teratas kategori itu.

Tidak ada perdebatan soal kategori di mana Romero berada. Wajahnya selalu menunjukkan kebingungan permanen tentang situasi yang dihadapinya: apakah saya benar-benar bermain untuk Tottenham? Konsisten dalam ketidakkonsistenan, dan selalu satu momen dari mengubah seluruh pertandingan menjadi kekacauan ala Michael Douglas dalam film Falling Down.

Enam Kartu Merah di Tottenham dan Momen yang Paling Membekas

Dari enam kartu merah di Spurs, yang paling membekas adalah saat tersingkir dari Liga Champions melawan Milan pada 2023. Pada leg kedua, Spurs tertinggal 0-1 secara agregat dan skor masih 0-0 di menit ke-77 di Tottenham Hotspur Stadium. Tottenham tidak banyak memberi ancaman, dan Romero sudah mengantongi kartu kuning karena menekel Rafael Leão. Lalu, tanpa alasan yang jelas, ia menabrak Théo Hernandez di sisi lapangan.

Itulah Romero versi puncak: seolah jengkel karena tidak bermain untuk tim yang lebih baik, dan butuh pelampiasan. Hernandez menjadi pelampiasan itu. Momen seperti inilah yang membuat penggemar Spurs terus menggelengkan kepala.

Empat Kartu Merah Cristian Romero di Premier League

Empat kartu merah Cristian Romero di Premier League memuat semua momen favorit penggemar. Setiap kartu punya cerita yang sulit dilupakan. Berikut rinciannya:

  • Dua kartu kuning saat melawan Manchester City, berawal dari tekel telat ke Erling Haaland di area pertahanan City. Tekel itu benar-benar memberi tahu Haaland bahwa Romero ada di sana.
  • Kartu merah langsung karena tekel yang hanya akan lolos di era 1986, terjadi saat melawan Chelsea ketika Tottenham memuncaki klasemen dan unggul 1-0 di awal era Ange Postecoglou. Gary Neville berseru, “oh tidak, Romero, kamu… kamu… kamu…”
  • Dua kartu kuning karena protes dan menendang Ibrahima Konaté yang sudah jatuh di lapangan saat melawan Liverpool pada Desember. Itu menjadi kartu merah pertamanya musim lalu.
  • Kartu merah langsung kepada Casemiro, juga tekel tipe “gapai bola sekalian gapai kaki” yang mungkin lolos di tahun 1986. Itu datang tak lama setelah Romero mengkritik klub di media sosial, memicu seruan agar ban kaptennya dicopot, dan menjadi kartu merah keduanya musim tersebut.

Lagi-lagi Neville berkata, “Apa yang dia lakukan?” Pertanyaan itulah yang paling mewakili perasaan penggemar saat menonton Romero. Di satu sisi brilian, di sisi lain selalu mengundang tanda tanya besar.

Sisi Lain: Pahlawan di Final Liga Europa

Sering dikatakan bek hebat tidak pernah menjatuhkan diri. Namun, Romero justru menghabiskan seluruh kariernya di Spurs dalam posisi jatuh. Saat final Liga Europa melawan Manchester United, ia menghabiskan sebagian besar laga di permukaan lapangan untuk menghadang tembakan dan pemain United.

Penampilannya di laga itu layak dinobatkan sebagai pemain terbaik. Banyak yang mengingat penyelamatan Micky van de Ven di garis gawang, tetapi Romero tampil tak terkalahkan di pertandingan itu. Dia memang tidak bisa tidak tampil hebat. Ia juga pernah bermain di dua final Piala Dunia, jika kita mau menerima anggapan bahwa ada pemain Argentina yang benar-benar bermain di final terakhir.

Gasperini, Scaloni, Conte, Postecoglou, Frank, dan Simeone semua menyukainya. Semua penggemar juga menyukai pemain yang berani menghadang lawan. Kita senang menganggap diri kita halus, tetapi kita berevolusi dari primata. Tekel keras dari pemain sendiri bisa membangkitkan naluri purba yang dalam, dan Romero juga sering mencetak gol-gol penting.

Atlético Madrid: Rumah Spiritual yang Tepat

Kabar kepindahannya ke Atlético Madrid terasa sempurna begitu rumor mulai beredar. Orang-orang yang saya ajak bicara tentang sepak bola Spanyol bilang Atléti bukan lagi tim yang kita kenal selama ini, bukan sekumpulan Godín, Giménez, dan Juanfran. Mungkin Simeone sedang membawa mereka kembali ke akar tersebut.

Jarang ada pemain yang terasa cocok di klub sebelum resmi mengenakan seragamnya. Tapi Romero memang terlihat tidak cocok di Tottenham bahkan sejak awal, meski ia bermain brilian dalam laga bertahan di final Liga Europa. Apakah itu benar-benar gambaran bek tengah Tottenham yang seharusnya?

Warisan Cristian Romero di Tottenham: Legenda yang Bikin Jengkel

Bek tengah terbaik Tottenham biasanya adalah Gary Mabbutt, Ledley King, Jan Vertonghen, atau Toby Alderweireld: solid, dapat diandalkan, dan tenang. Sementara yang terburuk banyak jumlahnya, tetapi tidak banyak yang ceroboh seperti Romero. Ia adalah pengecualian dalam daftar panjang bek Spurs.

Mungkin ini kekurangan saya sendiri, atau kekurangan cara kita menonton dan mengonsumsi sepak bola: saya sudah mengambil keputusan sejak awal. Saat menonton Romero, saya kesal pada sesuatu yang dia lakukan, atau kesal karena saya akan kesal pada sesuatu yang akan dia lakukan kemudian. Kekesalan permanen ini membuat penilaian objektif mustahil dilakukan.

Karena itu, ketika orang berbicara tentang kepemimpinannya dan terutama kemampuannya menguasai bola, saya tidak pernah sepenuhnya yakin. Namun, satu hal yang pasti: Romero meninggalkan kesan yang tidak bisa diabaikan di Tottenham. Baik atau buruk, ia selalu mencuri perhatian.

Cristian Romero adalah paradoks yang menarik: pemain yang selalu tampak bingung namun punya naluri bertahan luar biasa, ceroboh namun sering menjadi penentu kemenangan. Selamat jalan, Cristian. Saya merasa akan jauh lebih tidak menegangkan menontonmu bermain untuk tim yang tidak terlalu saya pedulikan. Dia mungkin meninggalkan Tottenham sebagai legenda klub, dan jika benar, dia pergi sebagai legenda yang sangat menjengkelkan.