Pendahuluan: Kemewahan Piala Dunia dan Kenyataan Pahit di Port Arthur
Gemerlap Piala Dunia 2024 yang digelar di Qatar dan Amerika Serikat menyuguhkan tontonan megah bagi jutaan pasang mata. Namun, di balik layar, ada cerita kelam yang jarang tersorot. Salah satu sponsor utama turnamen ini, Aramco, perusahaan minyak raksasa asal Arab Saudi, menghadapi tudingan serius dari warga Port Arthur, Texas. Dampak Aramco di Port Arthur menjadi sorotan karena kehadiran kilang minyak miliknya justru membawa penderitaan bagi komunitas di sekitarnya.
Port Arthur adalah kota kecil berpenduduk sekitar 55.000 jiwa, terletak sekitar 160 km di timur Houston. Di permukaan, tempat ini mungkin tampak seperti kota biasa di Amerika Selatan. Namun, di balik kesunyian dan rumah-rumah kayu sederhana, terdapat ancaman yang menggantung setiap hari: polusi dari kilang minyak raksasa Motiva, yang sepenuhnya dimiliki oleh Aramco sejak 2017.
Polusi Udara dan Krisis Kesehatan Warga
Sejak Aramco mengambil alih Motiva, warga Port Arthur merasakan dampak langsung. Kilang ini diklaim sebagai salah satu yang terbesar di Amerika Serikat, dengan luas 3.600 hektare dan kapasitas produksi 654.000 barel minyak mentah per hari. Namun, aktivitasnya menyisakan limbah beracun yang mencemari udara, tanah, dan air.
Tingkat Kanker dan Penyakit Pernapasan yang Mengkhawatirkan
Data menunjukkan bahwa angka diagnosis kanker di Port Arthur konsisten lebih tinggi dari rata-rata negara bagian Texas. Bahkan, tingkat kematian akibat kanker di komunitas Afrika-Amerika di sini mencapai 40% lebih tinggi. Tak hanya itu, tingkat asma pada anak-anak diperkirakan dua kali lipat dari rata-rata nasional. Warga melaporkan berbagai penyakit aneh mulai dari gangguan kulit hingga penyakit jantung yang parah.
Seorang aktivis lingkungan setempat, Hilton Kelley, yang memenangkan Goldman Prize berkat perjuangannya, menyaksikan sendiri banyak teman sekelasnya meninggal karena kanker di usia muda. “Saya bisa menghitung jumlah teman sekelas yang pemakamannya saya hadiri,” katanya. Ia menyebut beberapa nama seperti Jennifer Benson yang meninggal di usia 25 tahun karena kanker, dua blok dari kilang Motiva.
Emisi Beracun dan Pelanggaran Berulang
Emisi benzene – zat yang sangat karsinogenik – di Port Arthur termasuk yang tertinggi di Amerika Serikat. Selain itu, metana, karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan sulfur dioksida juga dikeluarkan secara rutin. Meskipun ada batasan dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), pelanggaran sering terjadi.
Pada tahun 2023, Motiva didenda sekitar £9.900 karena pelepasan sulfur dioksida tanpa izin. Setahun sebelumnya, denda £43.000 dijatuhkan untuk pelanggaran serupa yang lebih besar. Bahkan pada 2022, Motiva harus membayar £214.000 setelah terjadi kebocoran air terkontaminasi akibat meluapnya bendungan di area kilang. Kebocoran ini hanya sebagian kecil dari serangkaian insiden yang terus berulang, membuat warga merasa hidup di atas bom waktu.
Kritik Warga: “Port Arthur Neraka di Bumi”
Banyak warga yang merasa terjebak dan tidak punya pilihan lain selain bertahan. Greg Richard, seorang warga yang tinggal persis di seberang pagar kilang, menggambarkan Port Arthur sebagai “neraka di bumi”. Ia menambahkan, “Seharusnya jalan-jalan di sini berlapis emas karena kekayaan minyak, tapi kenyataannya tidak seperti itu.”
Kemiskinan merajalela. Laporan tahun 2021 menempatkan Port Arthur sebagai kota termiskin di Texas, dengan pendapatan rumah tangga rata-rata hanya £27.700 dan nilai rumah £49.800. Hampir 30% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya, kilang-kilang besar seperti Motiva tidak memberikan lapangan kerja yang memadai bagi warga lokal.
Diskriminasi Pekerjaan dan Pembelian Tanah Murahan
Menurut John Beard Jr., mantan pekerja kilang yang kini memimpin Port Arthur Community Action Network (Pacan), Aramco dan perusahaan lain lebih suka merekrut tenaga kerja dari luar kota atau bahkan luar negeri dengan alasan biaya lebih murah. “Mereka bisa dan seharusnya mempekerjakan warga sini, tapi tidak,” ujarnya. Fenomena ini membuat tingkat pengangguran di wilayah Port Arthur dan Beaumont mencapai 5,4%.
Selain itu, banyak warga yang menerima tawaran pembelian rumah dengan harga sangat rendah dari pihak kilang. Jamal Johnson, seorang warga yang tinggal di seberang Motiva, mengaku sering didatangi untuk menjual propertinya. “Mereka ingin kami pergi dari sini,” katanya. Ini memicu kekhawatiran bahwa Motiva berniat memperluas area kilang dengan mengusir pemukiman warga.
FIFA dan Tanggung Jawab Sponsor
Aramco diangkat sebagai “mitra besar dunia” FIFA pada tahun 2024 dan menjadi sponsor eksklusif energi Piala Dunia. Di Houston, ada “Aramco Arena” yang ramai di dalam festival penggemar resmi. Namun, di Port Arthur yang hanya 160 km dari Houston, tidak ada jejak investasi sosial atau program olahraga dari Aramco atau FIFA.
Beard mempertanyakan, “Di mana Aramco atau FIFA di lapangan sepak bola kami? Jika mereka begitu besar dalam sepak bola, mengapa tidak melakukan sesuatu di daerah yang sudah menjadi kepentingan bisnis mereka?” Menurutnya, FIFA seharusnya mempertimbangkan dampak nyata dari uang sponsor yang diambil. “Ini pada dasarnya darah,” tegasnya.
Padahal, dalam kode sumber berkelanjutan FIFA, sponsor diwajibkan mengelola emisi gas rumah kaca dan limbah cair sesuai peraturan setempat. Namun, FIFA enggan memberikan tanggapan saat ditanya apakah aktivitas Aramco di Port Arthur memenuhi ketentuan tersebut. Tidak ada pernyataan apakah Aramco dan Motiva sejalan dengan pilar lingkungan dari strategi keberlanjutan Piala Dunia.
Upaya Perbaikan dan Ketidakpercayaan Warga
Ada beberapa langkah positif dari Motiva, seperti merenovasi gedung-gedung tua di pusat kota Port Arthur, termasuk Hotel Sabine yang ikonik. Hilton Kelley mengakui bahwa polusi saat ini lebih baik 75% dibandingkan era kepemilikan Texaco. Namun, Beard tidak puas: “Lebih baik meminum setengah galon racun daripada satu galon. Tapi mereka masih terus mengeluarkan sampah ke udara. Harus dikurangi hingga nol.”
Warga seperti Shirley (nama samaran) yang rumahnya terendam air bercampur minyak saat Badai Harvey tahun 2017 merasa bahwa kompensasi tidak pernah adil. “Orang akan senang pergi jika ditawari uang yang layak, tapi ini rumah besar yang indah, saya tidak akan menjual hanya dengan $100.000.” Pasar properti terdistorsi karena polusi yang sudah mencemari lingkungan.
Kesimpulan: Belum Ada Harapan Tanpa Perubahan Fundamental
Port Arthur adalah contoh nyata bagaimana kemegahan global seperti Piala Dunia bisa menyembunyikan penderitaan lokal. Dampak Aramco di Port Arthur tidak hanya soal polusi, tetapi juga ketidakadilan sosial, kesehatan yang hancur, dan masa depan yang suram. Tanpa perubahan drastis dalam praktik perusahaan minyak dan pengawasan ketat dari FIFA, warga di “perut binatang” ini akan terus menjadi korban.
Seperti kata Beard, “Tidak ada alasan bagi Port Arthur untuk seperti ini.” Harapan hanya akan muncul jika ada rekalkulasi fundamental aktivitas bahan bakar fosil dan hubungan mereka dengan komunitas yang membuat mereka kaya raya.
