Trump Sengaja Hindari Piala Dunia? Ini Alasan di Balik Absensinya

Pada 28 Juni lalu, Donald Trump kembali membuat unggahan di Truth Social, platform media sosial miliknya. Tidak ada yang aneh memang, karena Trump dikenal sangat aktif di sana. Namun satu unggahan pada pukul 16.38 waktu setempat menarik perhatian—bukan karena nadanya yang bombastis seperti biasa, melainkan karena isinya tentang Piala Dunia.

Dalam unggahan itu, Trump memuji angka kehadiran penonton Piala Dunia yang disebutnya “jauh lebih besar dari Piala Dunia mana pun dalam sejarah”. Ia menyebutnya sebagai penghormatan besar untuk Amerika Serikat. Angka 4,6 juta penonton yang dirilis panitia memang memecahkan rekor, meski perlu dicatat bahwa jumlah pertandingan tahun ini lebih banyak dari edisi sebelumnya.

Namun yang lebih menarik dari ucapan Trump adalah kehadirannya—atau tepatnya ketidakhadirannya. Selama 22 hari dan 82 pertandingan Piala Dunia berlangsung, Trump nyaris tidak terlihat. Padahal biasanya ia haus akan sorotan. Lantas kenapa tiba-tiba ia menghindari Piala Dunia?

Strategi di Balik Keheningan Trump

Bagi Trump, membuat kebisingan adalah senjata utama. Ia terus-menerus membanjiri ruang publik dengan pernyataan kontroversial, baik di media sosial maupun pidato. Gaya komunikasinya yang khas—keras, tidak konsisten, tetapi mudah dikenali—telah membentuk citranya sebagai tokoh global yang dominan. Lantas mengapa ia justru diam selama Piala Dunia?

Jawabannya mungkin strategis. Dalam era di mana setiap gerak-gerik pemimpin dunia diawasi, kehadiran Trump di Piala Dunia bisa menjadi bumerang. Ia sadar akan potensi cemoohan dari penonton. Saat menghadiri final NBA di New York bulan lalu, ia mendapat sorak-sorak ejekan. Di Piala Dunia, risikonya lebih besar karena basis penggemar sepak bola di Amerika cenderung multikultural dan progresif.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Putin?

Pola serupa pernah dilakukan Vladimir Putin pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Saat itu, Putin hadir di beberapa pertandingan tetapi menjaga jarak dari sorotan. Ia membiarkan turnamen berjalan tanpa gangguan politik yang kentara. Tujuannya jelas: menampilkan Rusia sebagai tuan rumah yang ramah dan terbuka, atau yang kini dikenal sebagai sportswashing—mencuci citra melalui olahraga.

Trump tampaknya menerapkan taktik yang sama. Dengan tidak menonjol, ia menghindari gesekan. Misalnya, tidak ada insiden besar antara aparat imigrasi AS dan penggemar asing di kota-kota tuan rumah. Jika ada operasi ICE (Imigrasi dan Bea Cukai), itu dilakukan di luar area Piala Dunia. Bahkan ketegangan dengan Iran mereda selama turnamen—sebuah keberuntungan yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan.

Piala Dunia sebagai Acara yang Tidak Bisa Dikendalikan

Ada alasan lain yang lebih mendasar: sepak bola tidak mudah tunduk pada kehendak penguasa. Olahraga ini memiliki struktur emosional yang independen. Tim nasional AS putra, misalnya, terkenal multikultural—terdiri dari pemain dari berbagai latar belakang etnis dan imigran. Ini sangat bertolak belakang dengan retorika Trump yang kerap mengeksklusifkan kelompok tertentu.

Belum lagi pengalaman buruk Trump dengan tim nasional wanita AS. Timnas putri beberapa kali berselisih dengan pemerintahannya. Di Piala Dunia ini, wajah Amerika yang ditampilkan adalah keragaman dan keterbukaan—bukan tembok perbatasan. Bagi Trump, berdiri di samping tim seperti itu mungkin terasa tidak nyaman.

Kesimpulan: Absensi yang Diperhitungkan

Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa sebuah turnamen olahraga bisa mengubah arah politik yang tengah memecah belah. Namun ketidakhadiran Trump di Piala Dunia bukanlah kebetulan. Ini adalah pilihan sadar untuk mengosongkan zona sorotan, sebuah bentuk sportswashing versi dirinya sendiri. Bisa juga merupakan pengakuan bahwa sepak bola tetap memiliki daya tahan terhadap dominasi narasi tunggal. Dan mungkin, hanya mungkin, ia merasa waspada. Jadi, Donald, tidak perlu terburu-buru datang—biarkan saja Piala Dunia berjalan tanpa gangguan.