Norwegia Lolos 16 Besar Berkat Gol Dramatis Erling Haaland

Keputusan Berani Ståle Solbakken Menuai Hasil Manis

Pelatih Norwegia, Ståle Solbakken, mengambil risiko besar dengan mengistirahatkan hampir seluruh pemain intinya saat menghadapi Prancis di laga pamungkas grup. Keputusan ini menuai kritik tajam, terutama dari para suporter yang sudah membayar mahal untuk menyaksikan duel antara Erling Haaland dan Kylian Mbappé. Solbakken sendiri sadar penuh bahwa langkahnya hanya akan dianggap benar jika Norwegia berhasil melaju ke babak selanjutnya. Dan kini, keputusan itu terbukti tepat.

Norwegia resmi lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Para pemain dan pendukung merayakannya dengan riuhnya tarian Viking yang dipimpin oleh Martin Ødegaard. Solbakken pun bisa bernapas lega karena strateginya membuahkan hasil, meskipun harus diakui perjalanan menuju kemenangan itu teramat sempit.

Babak Pertama: Norwegia Unggul Lebih Dulu

Antonio Nusa Membuka Keunggulan

Norwegia tampil percaya diri sejak menit awal. Meski Pantai Gading mendominasi penguasaan bola, serangan mereka kurang tajam. Justru Norwegia yang mampu memanfaatkan peluang. Enam menit sebelum turun minum, umpan terobosan Ødegaard diterima Antonio Nusa di sisi sayap. Nusa dengan cerdik memotong ke dalam melewati Nicolas Pépé, lalu melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Yahia Fofana. Skor 1-0 untuk Norwegia bertahan hingga jeda.

Babak Kedua: Amad Diallo Jadi Mimpi Buruk, Lalu Muncul Haaland

Intervensi Brilian Diallo: Dari Clearance hingga Gol Indah

Memasuki babak kedua, Norwegia masih memegang kendali. Namun, masuknya Amad Diallo dari bangku cadangan mengubah segalanya. Pemain Manchester United itu melakukan penyelamatan luar biasa di garis gawang untuk menghalau tendangan voli Torbjørn Heggem yang nyaris menjadi gol. Tak berselang lama, Diallo mencetak gol penyama kedudukan yang spektakuler. Ia menerima bola di sisi kanan, melakukan one-two dengan Pépé yang membuat tiga pemain Norwegia mati langkah, kemudian mengecoh bek keempat sebelum menuntaskan peluang dengan tendangan terukur melewati Ørjan Nyland. Pantai Gading pun menyamakan skor 1-1.

Momen Magis Erling Haaland di Menit Akhir

Pertandingan kembali hidup. Semangat Pantai Gading yang dijuluki “Les Revenants” (para hantu) seakan bangkit lagi. Namun, Norwegia tidak menyerah. Empat menit sebelum waktu normal berakhir, umpan dari Patrick Berg menemui Haaland di kotak penalti. Meski pukulannya tidak sempurna—bola lebih memantul dari kakinya—namun bagi para suporter Norwegia di belakang gawang, itu tidak penting. Gol itu sudah cukup untuk memastikan kemenangan 2-1. Ini menjadi gol ke-60 Haaland dalam 53 penampilannya bersama timnas.”Dia adalah pencetak gol terbanyak di dunia,” puji Solbakken usai laga. “Haaland memberi ketenangan bagi tim. Kemampuannya menahan bola kerap diremehkan. Mencetak lima gol di Piala Dunia untuk negara kecil seperti Norwegia? Saya rasa dia sendiri pun tak menyangka bisa melakukannya. Saya tak akan menukarnya dengan pemain mana pun.”

Catatan Sejarah: Lolos ke 16 Besar untuk Norwegia

Bagi kedua tim, babak 16 besar adalah wilayah langka. Pantai Gading belum pernah lolos dari fase grup di Piala Dunia sebelumnya, sementara Norwegia hanya dua kali memainkan laga sistem gugur: pada 1938 (saat belum ada fase grup) dan 1998. Kedua kali itu mereka kalah dari Italia. Rotasi besar-besaran Solbakken adalah upaya memutus rantai kegagalan tersebut. Hasilnya, Patrick Berg—satu-satunya pemain yang bermain penuh dalam dua laga terakhir—menjadi penyuplai gol kemenangan Haaland. “Mulai dari kakek berusia 100 tahun hingga balita berusia dua tahun, semuanya ikut mendayung sekarang,” ujar Solbakken penuh kegembiraan merujuk pada selebrasi Viking.

Laga ini juga menjadi ujian baru bagi Norwegia. Generasi saat ini terbiasa mencetak banyak gol dan mendominasi lawan. Bertahan, menekan, dan bertahan lama bukanlah ciri khas mereka. Namun kali ini mereka menjalaninya dan berhasil. Seandainya Pantai Gading sedikit lebih tajam di lini depan, mungkin hasilnya akan berbeda.

Analisis Penampilan Pantai Gading: Dominasi Tanpa Ketajaman

Masalah Klasik “Les Revenants”

Sama seperti saat melawan Jerman (kalah 2-1 setelah unggul lebih dulu), Pantai Gading memulai laga dengan impresif. Kali ini mereka lebih memilih menguasai bola ketimbang mengandalkan serangan balik. Ancaman utama datang dari sisi sayap melalui Nicolas Pépé yang kini bermain untuk Villarreal. Pépé menunjukkan kelincahan dan keberanian yang jarang terlihat saat membela Arsenal. Namun peluang tetap datang tidak teratur—masalah yang terus menghantui Pantai Gading sejak menjuarai Piala Afrika 2023 di kandang sendiri (pada 2024).

Dalam turnamen tersebut, mereka kalah dua kali di fase grup termasuk dibantai Guinea Khatulistiwa 0-4, lalu memecat pelatih dan menunjuk Emerse Faé. Secara ajaib mereka tetap menjadi juara. Namun setelah sihir “Les Revenants” memudar, Pantai Gading sering kehilangan presisi dan ketajaman di depan gawang. Kekalahan 3-2 dari Mesir di perempat final Piala Afrika Januari lalu adalah contoh tipikal: banyak penguasaan bola, banyak peluang, tapi minim ancaman gol nyata.

Pelatih Faé membela keputusannya tidak memainkan Diallo sejak awal meski pemain itu tampil gemilang. “Kami tahu dia akan memberikan banyak hal begitu masuk, dan itulah yang terjadi,” ujar Faé. Diallo nyaris menjadi pahlawan ekstra, andai tendangan bebasnya di masa injury time tak dimentahkan oleh Nyland dengan penyelamatan spektakuler.

Kesimpulan: Kapal Viking Terus Melaju

Laga sengit ini menjadi bukti kegigihan Norwegia di bawah asuhan Solbakken. Dengan mengandalkan momen gemilang Erling Haaland di detik-detik kritis, tim berjuluk “Viking” itu berhasil mengamankan tiket ke babak 16 besar. Mereka akan berhadapan dengan Brasil di New York New Jersey Stadium—sebuah duel yang menarik karena Brasil belum pernah mengalahkan Norwegia di level internasional, serta menjadi panggung duel antara Gabriel Magalhães dan Haaland. Apapun hasilnya, penggemar Norwegia boleh berbangga: kapal Viking terus mendayung maju di Piala Dunia kali ini.