Xavi Resmi Jadi Pelatih Belanda, Hidupkan Total Football

Xavi Hernandez resmi menjadi pelatih Belanda. Dalam presentasi perdananya, ia menegaskan bahwa dirinya kini sedang masuk ke “universitas sepak bola” dan siap menghadirkan kembali gaya menyerang khas Negeri Oranye. Pelatih berusia 46 tahun itu juga membawa misi untuk membangun tim yang penuh semangat, ambisi, dan keinginan besar untuk mendominasi pertandingan.

Penunjukan ini menjadi babak baru bagi skuad Oranye yang sedang mencari identitas setelah beberapa tahun terakhir kerap berganti gaya kepelatihan. Prosesnya sendiri berlangsung panjang dan melibatkan sejumlah nama besar, mulai dari Pep Guardiola hingga Arne Slot, sebelum akhirnya Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengumumkan Xavi pada 12 Agustus. Ujian pertamanya sudah menanti: menjamu Jerman pada laga Nations League 24 September, sekaligus berhadapan dengan Jürgen Klopp yang juga baru memulai pekerjaan barunya.

Keterikatan Xavi dengan “Universitas Sepak Bola”

Ungkapan “universitas sepak bola” bukan sekadar retorika belaka. Karier Xavi memang tumbuh dari akar sepak bola Belanda, terutama melalui La Masia, akademi Barcelona yang fondasinya dibangun di atas filosofi total football ala Rinus Michels dan Johan Cruyff. Ia bahkan menjalani debut tim utama saat Barcelona ditangani Louis van Gaal, lalu bermain bertahun-tahun di bawah Frank Rijkaard sebelum menjadi pilar utama tim impian era Pep Guardiola.

Hubungan Xavi dengan sepak bola Belanda juga menyentuh sisi personal. Pada 2014, ia bersama Cruyff meresmikan sebuah Cruyff court di kampung halamannya, Terrassa, sebagai ruang olahraga multifungsi untuk anak-anak. Xavi pun mengenang pertemuan-pertemuannya dengan Cruyff di masa-masa akhir hidup sang legenda, yang wafat pada 2016, dengan penuh kehangatan. “Ia selalu positif, bahkan saat sakit, dan itu yang saya pelajari: selalu tersenyum,” kata Xavi. “Hal itulah yang ingin saya tunjukkan kepada para pemain di sini.”

Filosofi Xavi sebagai Pelatih Belanda: Kuasai Bola, Ambil Inisiatif

Xavi sejak lama dikenal sebagai pelatih yang memuja penguasaan bola, dan ia ingin menerapkannya di Belanda. Tujuannya sederhana: mendominasi permainan, mengambil inisiatif sejak menit awal, dan tetap mempertahankan passion di lapangan. “Hal yang sangat penting bagi saya sebagai pelatih,” ujarnya, “adalah menunjukkan kepada semua orang tim yang punya hasrat, keinginan, dan ambisi.”

Ia pun menjawab pertanyaan yang sempat mengemuka di media Belanda: akankah ia memakai lima bek seperti Louis van Gaal atau Ronald Koeman? Xavi menegaskan itu bukan idenya. Ia lebih memilih formasi yang memberi ruang lebih besar untuk mendominasi pertandingan, antara lain:

  • 4-3-3
  • 4-2-3-1
  • 3-4-3

Ketiga opsi tersebut sejalan dengan tradisi lama Belanda yang selalu menonjolkan sepak bola menyerang. Karena itu, Xavi dinilai sebagai sosok yang pas untuk membangkitkan kembali gaya khas Oranye. Para penggemar tentu berharap pendekatan ini bisa mengembalikan kejayaan Belanda di pentas internasional.

Proses Panjang di Balik Penunjukan Xavi

Direktur sepak bola elit KNVB, Nigel de Jong, membuka tabir bagaimana Xavi akhirnya terpilih. De Jong mengaku pertama-tama meraba minat Guardiola, yang menyatakan belum ingin mengambil pekerjaan dalam waktu dekat, kemudian mengadakan dua pertemuan dengan Arne Slot. Slot pun memilih tetap menjadi pelatih klub.

Setelah itu, De Jong mengundang Xavi ke Amsterdam untuk bertemu, dan Clarence Seedorf, anggota dewan pengawas KNVB, ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Keesokan harinya, De Jong dan Seedorf berbincang panjang dengan Michael Reiziger, pelatih tim U-21 Belanda yang pernah menjadi rekan setim Xavi di Barcelona. Sempat muncul wacana mempromosikan Reiziger seperti perjalanan Luis de la Fuente bersama Spanyol, mengingat pengetahuannya tentang talenta muda Belanda dianggap sebagai nilai tambah besar.

Saat pertemuan dengan Reiziger bocor ke media Belanda, banyak pihak menduga mantan bek sayap itu yang akan ditunjuk. Namun pada 12 Agustus, KNVB justru mengumumkan Xavi, sebuah keputusan yang tampak mengejutkan banyak orang. Xavi sendiri menanggapi proses itu dengan santai: “Bukan posisi yang buruk kan, setelah Guardiola dan Slot? Setidaknya saya berada di podium. Saya tidak peduli apakah saya pilihan ketiga atau kesepuluh, ini kehormatan besar bagi saya.”

Kebijakan Xavi soal Pemain dari Liga Saudi

Pertanyaan menarik lain yang dilemparkan kepada Xavi adalah kebijakannya terhadap pemain yang berkarier di Liga Pro Saudi. Isu ini menjadi relevan setelah Tijjani Reijnders pindah dari Manchester City ke Al-Qadsiah pekan lalu. Sebelumnya, Ronald Koeman sempat menegaskan bahwa Steven Bergwijn tidak akan dipanggil lagi setelah pindah ke Al-Ittihad karena level liga tersebut dinilai tidak sesuai standar.

Xavi punya pandangan berbeda. “Liga Saudi juga liga yang bagus,” katanya. “Mungkin kami akan memilih pemain dari Saudi, dari Eredivisie, Premier League, atau La Liga. Saya tidak peduli liganya, saya peduli performa dan pemainnya.”

Debut Kontra Jerman: Duel Melawan Klopp

Laga perdana Xavi di kursi pelatih Belanda sudah menunggu di depan mata. Pada 24 September, Belanda akan menjamu Jerman di Amsterdam dalam lanjutan Nations League, dan Xavi akan berhadapan dengan Jürgen Klopp yang juga baru memulai pekerjaan barunya. “Saya merasa antusias dan termotivasi,” ucapnya, “karena kami akan melawan Jerman, salah satu tim terbaik Eropa, dengan salah satu pelatih terbaik dalam beberapa tahun terakhir.”

Sebelum laga itu, Xavi mengaku sudah berbicara dengan Frenkie de Jong, pemain yang pernah ia latih di Barcelona, serta Virgil van Dijk. Ia berencana kembali bertemu Van Dijk selaku kapten untuk mendengar ambisi mereka terhadap tim ini. Di sisi lain, Xavi juga akan didampingi staf yang mencakup nama besar seperti Ruud van Nistelrooy.

Xavi menyimpan mimpi besar untuk mengembalikan gaya Belanda yang ia kagumi sejak kecil. “Saya ingat ketika masih kecil, saya menonton Belanda dan menonton sepak bola yang indah,” katanya. “Itulah jalan saya, dan itulah target saya.”

Penunjukan Xavi membawa angin segar bagi Belanda yang ingin kembali tampil dominan di kancah Eropa. Dengan filosofi menyerang, keterbukaan terhadap pemain dari berbagai liga, dan kedekatan emosional dengan budaya sepak bola Belanda, ia punya modal kuat untuk sukses. Kini semua mata tertuju pada laga kontra Jerman: ujian pertama yang akan menentukan apakah “universitas sepak bola” benar-benar menjadi rumah baru yang tepat bagi Xavi.