Kisah Sukses Mohamed Salah: Pengorbanan di Balik Mimpi

Setiap kisah sukses Mohamed Salah selalu berakar pada pengorbanan besar yang jarang diketahui publik. Sebelum menjadi salah satu pemain terbaik dunia dan bintang Liverpool, ia harus menempuh perjalanan sembilan jam pulang-pergi dari desanya, Nagrig, menuju pusat latihan Al Mokawloon di Kairo. Rutinitas berat itu ia jalani lima hari dalam sepekan sejak usia 14 tahun.

Perjalanan itu membawanya melewati gerbang sektor muda Al Mokawloon Al Arab di Nasr City, Kairo timur, yang kini menjadi saksi bisu langkah pertamanya. Foto wajah Salah terpajang megah di atas gerbang tersebut sebagai pengingat bahwa bakat saja tidak cukup tanpa disiplin dan tekad baja. Sosoknya membuktikan bahwa seorang anak desa bisa menaklukkan segala keterbatasan dan mengubah hidupnya selamanya.

Perjalanan 9 Jam Demi Latihan di Kairo

Hamdi Nouh, pelatih pertama Salah di Al Mokawloon yang disebut sebagai “ayah kedua”, mengungkapkan kunci kesuksesan anak asuhnya. Menurutnya, Salah siap mengorbankan segalanya, mau bekerja keras, dan selalu haus belajar. Kesederhanaan kalimat itu menyimpan kenyataan pahit yang harus dijalani pemain asal Nagrig setiap hari.

Demi tiba tepat waktu di sesi latihan, Salah harus berganti setidaknya empat bus dalam sekali perjalanan. Rute pertamanya dimulai dari pertigaan di ujung desa menuju Basyoun, lalu lanjut ke Tanta, ibu kota Provinsi Gharbia. Dari sana, ia menempuh sekitar 100 kilometer menuju Ramses Square yang penuh sesak, sebelum akhirnya sampai di Nasr City.

Pada hari-hari yang lebih beruntung, ia mendapat tumpangan hingga dekat gerbang klub. Jika tidak, ia terpaksa berlari hampir dua kilometer menaiki bukit terjal agar tidak terlambat mengikuti latihan. Setelah berlatih selama empat jam, ia harus mengulangi perjalanan yang sama beratnya untuk pulang ke pangkuan keluarganya.

Salah sendiri mengaku tidak pernah merasa lelah dengan rutinitas melelahkan tersebut. “Saya tidak merasa lelah bepergian saat muda karena saya melakukan sesuatu yang saya inginkan, mengejar mimpi yang harus saya raih. Saya tidak melihat situasi saya, saya melihat tujuan saya,” ujarnya pada 2022. Justru hari-hari penuh perjuangan itulah yang hingga kini selalu membuatnya tersenyum setiap kali mengenang masa lalu.

Dukungan Orang Tua di Balik Perjuangan

Di balik perjuangan Salah, ada kekhawatiran besar yang dipendam sang ibu, Umm Mohamed. Ia tidak tega melihat putra sulungnya hanya menghabiskan dua jam di sekolah, antara pukul tujuh hingga sembilan pagi, lalu merantau jauh dari kampung halaman. Kekhawatirannya makin menjadi karena angka kecelakaan mikrolet di Mesir tergolong tinggi dan cara berkendara yang berbahaya sudah dianggap biasa.

Suatu kali, sebuah kecelakaan besar terjadi di rute yang biasa dilalui Salah. Sang ibu panik dan mencoba menghubunginya lebih dari 20 kali, tetapi panggilannya tidak pernah dijawab. Ternyata Salah tertidur pulas karena kelelahan, meski ia selalu menolak mengakuinya di hadapan publik.

Sementara itu, sang ayah, Salah Ghaly, bekerja sebagai pegawai pemerintahan dan pedagang bunga melati, komoditas khas Nagrig. Ia menjadi penopang utama pendanaan perjalanan sepak bola anaknya, mulai dari klub Ittihad di Basyoun, lalu Othmason di Tanta, hingga akhirnya Al Mokawloon di Kairo. Bakat Salah sebenarnya sudah terlihat sejak usia delapan tahun saat pertama kali mulai berlatih.

Ghamri Abdel-Hameed el-Saadani, pelatih junior di pusat pembinaan muda, mengingat betul keistimewaan anak asuhnya itu. “Dia kecil, tetapi kaki kiri dan tembakannya sangat kuat. Dia cepat dan bisa melakukan hal-hal dengan bola yang tidak bisa dilakukan anak-anak lain,” kenangnya. Pengamatan pelatih itulah yang membuat ayah Salah semakin yakin dan meyakinkan sang ibu bahwa keputusan mereka sudah tepat.

Malam-Malam Penuh Pengorbanan di Al Mokawloon

Kisah pengorbanan Salah tidak berhenti pada perjalanan bus yang melelahkan. Ada satu kisah lain yang jarang diketahui publik, yang terjadi tepat di balik gerbang baja hitam Al Mokawloon. Suatu ketika, seorang rekan setimnya mengajak Salah menginap di rumah pamannya di Kota 10 Ramadan, Kairo Raya, selama sepekan agar tidak perlu bolak-balik ke Nagrig.

Orang tua Salah akhirnya mengizinkan setelah melalui banyak pertimbangan. Sang ayah memberinya 60 pound Mesir sebagai bekal dan dia pun berangkat. Namun sesampainya di sana pada malam hari, paman temannya itu tidak ada di rumah, membuat mereka terjebak tanpa cukup uang dan pengetahuan untuk mencari tempat tinggal lain.

Teman Salah kemudian mengajaknya ke rumah kenalan lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ternyata, rumah tersebut berada di area pemakaman, sebuah kenyataan menyedihkan yang mencerminkan krisis perumahan parah di Kairo. Salah menolak tidur di kompleks makam itu, dan temannya pun punya rencana terakhir: meminta bantuan seorang administrator di Al Mokawloon untuk membukakan pintu.

Mereka pun menggelar sprei di lantai tepat di belakang gerbang baja dan menjadikannya tempat tidur darurat. Salah memakai sepatunya sebagai bantal dan memasang alarm pukul enam pagi agar tidak ketahuan orang lain serta administrator yang membantu mereka tidak mendapat masalah. Keesokan harinya, mereka pindah ke Lapangan 2 dan tidur di bawah langit malam yang dingin sebelum kembali bersembunyi dan masuk kompleks latihan saat pagi tiba.

Kisah Sukses Mohamed Salah dari Mimpi ke Legenda

Salah telah mengumpulkan pengorbanan, usaha, dan pelajaran seumur hidup sebelum genap berusia 18 tahun. Momen yang tidak akan pernah ia lupakan adalah ketika bergabung dengan tim utama dan pindah ke fasilitas tempat tinggal Al Mokawloon. “Tidak semua orang bisa tinggal di sana, jadi secara psikologis saya merasa menjadi seseorang, seperti bintang,” kenangnya suatu waktu.

“Saya biasa melihat pemain selesai latihan dan naik ke atas, sementara saya harus meninggalkan lapangan untuk pulang ke Nagrig. Saya berpikir, suatu hari nanti saya akan naik ke sana,” tambahnya. Kini, Salah terbukti melampaui mimpi terliarnya dengan menjadi pemain sepak bola Mesir paling sukses sepanjang sejarah.

Kisah sukses Mohamed Salah membuktikan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar jika dibayar dengan kerja keras dan pengorbanan tulus. Dari seorang anak desa yang pernah tidur di lapangan demi bisa berlatih, ia menjelma menjadi ikon sepak bola dunia yang menginspirasi jutaan orang. Setiap langkah yang ia tempuh hari ini adalah buah dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia sesali.

Perjuangannya mengajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa jauh kita jatuh, tetapi seberapa kuat kita bangkit mengejar mimpi. Sosoknya di gerbang Al Mokawloon akan selalu menjadi pengingat bahwa mimpi bisa diraih siapa saja, dari mana saja. Cerita ini layak menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang mewujudkan impiannya.