Kritik Pedas untuk Gianni Infantino: Blatter dan Tebas Desak Mundur

Blatter dan Tebas Bersatu Desak Infantino Mundur dari FIFA

Kontroversi seputar kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA kembali memanas. Dua tokoh sepak bola berpengaruh, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter dan Presiden La Liga Javier Tebas, secara terbuka mendesak Infantino untuk mundur. Mereka menilai pria asal Swiss itu telah merusak industri sepak bola dengan kebijakan yang mengutamakan Piala Dunia di atas kompetisi domestik.

Kritik ini muncul di tengah euforia Spanyol yang baru saja menjuarai Piala Dunia. Tebas dengan tegas menyatakan bahwa masa jabatan Infantino sudah habis. Sementara itu, Blatter menyerukan kepada para penggemar, pemain, dan asosiasi nasional untuk “merebut kembali sepak bola” dan mengembalikannya ke akar rumput di bawah kepemimpinan yang baru.

Kebijakan Ekspansi Piala Dunia 2030 Menuai Kecaman

Salah satu pemicu utama kemarahan Tebas adalah rencana Infantino memperluas Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim. Menurut Tebas, langkah ini tidak masuk akal. “Menambah jumlah tim nasional tidak masuk akal,” ujarnya kepada La Gazzetta dello Sport. Ia berargumen bahwa industri sepak bola tidak hanya terdiri dari Piala Dunia; kompetisi nasional lah yang sebenarnya menopang olahraga ini.

Tebas menambahkan bahwa FIFA seakan merusak industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja hanya demi sebuah ajang yang berlangsung 40 hari dan melibatkan minoritas pemain. “Kami butuh lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional di semua level. Mereka tidak sadar telah mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Infantino Dianggap Sulit Tersentuh

Meski mendesak mundur, Tebas mengakui sulit membayangkan Infantino benar-benar lengser. Ia menjelaskan bahwa Infantino mendapat dukungan penuh dari sistem dan federasi. “Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Sistemnya busuk sampai ke akar-akarnya,” kata Tebas.

Setelah 10 tahun memimpin FIFA, Infantino diperkirakan akan terpilih kembali untuk periode keempat pada Maret mendatang. Kemungkinan besar ia kembali tanpa lawan, seperti dua pemilihan sebelumnya. Namun, Tebas yakin bahwa jika Amerika Serikat berhasil mengalahkan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia lalu, Infantino mungkin sudah terjerat skandal yang tak bisa dipulihkan.

Kontroversi Kasus Balogun: Panggilan Telepon Trump?

Kritik juga menyasar keputusan FIFA yang membatalkan larangan bermain satu pertandingan terhadap striker AS, Folarin Balogun, sehingga ia bisa tampil melawan Belgia. Keputusan ini diambil setelah adanya panggilan telepon dari Donald Trump kepada Infantino. Meskipun Infantino mengklaim keputusan itu independen, Tebas menilai insiden tersebut sangat serius.

“Pembatalan larangan pemain Amerika itu benar-benar serius. Mereka beruntung Belgia mengeliminasi AS, karena jika tidak, kasus itu bisa berujung pada pemecatan Infantino. Karena Belgia menang, mereka bisa mengubur masalah ini. Tapi hal-hal seperti ini hanyalah puncak gunung es,” ujar Tebas.

Blatter, yang juga pernah menjadi figur kontroversial saat menjabat, menganggap kasus Balogun sebagai titik puncak. Dalam cuitannya di X, ia menulis: “Piala Dunia terpanjang telah berakhir dengan juara yang tepat. Namun dalam perjalanan menuju peluit akhir, turnamen ini kehilangan kredibilitas. Politik tidak boleh dibiarkan membayangi pertandingan.”

Istirahat Panjang dan Time-Out Minum Dipersoalkan

Tebas juga menyoroti kebijakan FIFA tentang jeda minum (hydration breaks) dan perpanjangan waktu istirahat babak pertama. Menurutnya, FIFA mengatur segalanya sesuai keinginan mereka sendiri, bukan demi kepentingan sepak bola. “Jika mereka butuh jeda babak pertama selama 27 menit, mereka akan lakukan itu,” sindir Tebas.

Ia menambahkan bahwa jeda minum adalah kebohongan. “Kami punya jeda minum di La Liga, tetapi hanya saat benar-benar panas. Lapangan di Dallas, Los Angeles, Atlanta ber-AC; saya harus pakai jaket di tribun. Itu kebohongan, jeda untuk iklan,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas kritik tersebut.