Piala Dunia 2026 akan segera berakhir dengan dua pertandingan pamungkas di Amerika Serikat. Sebagai tuan rumah utama dari trio Amerika Utara, AS menggelar 78 dari 104 pertandingan di 11 kota. Kini, hanya tersisa laga perebutan tempat ketiga di Miami dan final di East Rutherford, New Jersey. Sebelum fokus beralih ke edisi seratus tahun 2030 yang melibatkan enam negara di tiga benua, mari kita lihat bagaimana evaluasi Piala Dunia 2026 AS dari berbagai aspek.
Stadion: Ruang Luas, Antrean Bikin Gerah
Dari sisi kapasitas dan desain, stadion-stadion NFL yang digunakan tergolong kelas atas. Banyak venue dirancang untuk menahan suara, menciptakan atmosfer gemuruh yang mendukung pertandingan. Namun, lorong sirkulasi tidak banyak diperluas, sehingga area concourse sering macet. Penonton harus bersabar merayap sebelum dan sesudah laga.
- Nilai: B+
- Terbaik untuk pengalaman di dalam stadion, tetapi buruk untuk mobilitas di dalam bangunan.
Transportasi: Ketergantungan Mobil Jadi Batu Sandungan
Sistem transportasi publik AS memang tidak dirancang untuk menampung puluhan ribu penonton. Beberapa kota menyediakan bus tambahan, tetapi tarifnya memberatkan. Waktu tempuh ke stadion bisa berjam-jam, dan perjalanan pulang makin lambat. Ini menjadi salah satu kelemahan utama dalam evaluasi Piala Dunia 2026 AS.
- Nilai: D+
- Infrastruktur yang berpusat pada mobil membuat mobilitas fans dari luar negeri sangat terbatas.
Keterjangkauan: Harga Tiket Melambung, Fans Dunia Tersingkir
Inilah kategori paling kontroversial. Rencana awal dari United 26 sebenarnya wajar—kenaikan harga yang moderat seiring inflasi. Kenyataannya, Piala Dunia 2026 menjadi acara olahraga termahal yang pernah ada. FIFA mengakui bahwa edisi ini dimanfaatkan sebagai ATM, dan kebijakan itu tidak berkelanjutan. Akibatnya, tiket, transportasi, makanan, minuman, parkir, dan semua layanan ikut melonjak. Sebagian besar penggemar global tidak mampu hadir langsung.
- Nilai: F
- Preseden ini membuat tuan rumah masa depan sulit meniru model yang sama tanpa memicu kemarahan publik.
Keramahan (Hospitality): Semangat Komunitas vs. Hambatan Politik
Suasana antar-suporter tetap hangat. Meski bir mahal, fans dari berbagai negara bersulang bersama. Relawan FIFA ramah dan membantu. Namun, sisi gelapnya adalah kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang menolak masuk warga dari beberapa negara tertentu, termasuk wasit dan staf tim. Hal ini sangat kontras dengan semangat inklusif Piala Dunia 1994. Dukungan dari negara-negara seperti Pantai Gading, Haiti, Iran, dan Senegal pun berkurang drastis.
- Nilai: A untuk semangat yang tercipta, F untuk hambatan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Atmosfer: Gemerlap Kota Sepak Bola vs. Kehampaan Pinggiran
Seattle, Philadelphia, dan Kansas City menjadi contoh kota yang sukses menciptakan atmosfer Piala Dunia organik. Tontonan publik, spanduk, dan bendera memenuhi jalan. Namun, kota seperti Boston dan Bay Area juga cukup ramah. Sebaliknya, kota-kota yang stadionnya jauh dari pusat—khususnya Dallas dan Houston di Texas—terasa dingin dan cepat kehilangan geliat. Banyak warga lokal tidak merasakan dampak turnamen.
- Nilai: B-
- Kesenjangan antara kota yang memanfaatkan momen dan yang tidak sangat terlihat.
Kesimpulan: Potensi Besar, tetapi Mahal dan Timpang
Evaluasi Piala Dunia 2026 AS menghasilkan nilai campuran. Stadion dan atmosfer mendapat nilai tinggi, tetapi keterjangkauan dan transportasi mengecewakan. Keramahan bercampur antara semangat komunitas dan hambatan politik. Secara keseluruhan, AS membuktikan mampu menggelar turnamen berskala besar, namun meninggalkan pertanyaan tentang inklusivitas dan keberlanjutan finansial. Akankah model ini dipertahankan di masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawab.
