Kritik Pedas Sekjen Dewan Eropa terhadap FIFA
FIFA kembali diterpa kritik keras. Kali ini datang dari Sekretaris Jenderal Dewan Eropa, Alain Berset, yang menuding organisasi sepak bola dunia itu membuka “pintu lebar bagi penipuan” melalui praktik perjudian. Dalam surat terbuka yang dirilis bertepatan dengan final Piala Dunia, Berset juga menyoroti dominasi uang dan kekuasaan yang merusak integritas turnamen.
Tudingan ini bukan tanpa dasar. Berset mengaitkan masalah judi dengan beberapa insiden kontroversial, mulai dari pencabutan sanksi pemain AS Folarin Balogun hingga komentar oknum pejabat yang bernada rasis. “Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di Piala Dunia 2026,” tulis Berset, seraya menambahkan bahwa perayaan malam final tidak akan menghapus semua kegelisahan itu.
Kemitraan Judi FIFA: Jalan Baru Menuju Kecurangan
Fokus utama kritik Berset adalah kerja sama FIFA dengan ADI Predictstreet, platform prediksi yang resmi menjadi mitra Piala Dunia sejak April. Menurut Berset, taruhan kini tidak lagi terbatas pada hasil akhir pertandingan, melainkan merambah momen-momen kecil yang bisa diciptakan seorang pemain tanpa mengubah skor. “Sebuah taruhan dimenangkan dengan membuat orang lain kalah. Ini adalah pintu terbuka menuju penipuan, dan Piala Dunia ini telah membukanya lebih lebar,” tegasnya.
Praktik judi semacam itu, menurut Dewan Eropa, sangat rentan dimanipulasi. Pemain, wasit, atau pihak lain bisa dengan sengaja memicu momen tertentu demi keuntungan taruhan. FIFA judi dalam konteks ini dianggap tidak memiliki pengamanan yang memadai, sehingga integritas olahraga terancam.
Pengaruh Politik dan Kasus Folarin Balogun
Berset juga secara tidak langsung merujuk pada campur tangan politik dalam keputusan FIFA. Ia menyebutkan bagaimana sanksi terhadap striker AS, Folarin Balogun, dicabut hanya dalam hitungan hari tanpa penjelasan yang jelas. Keputusan itu diambil setelah Presiden FIFA Gianni Infantino menerima telepon dari Presiden AS Donald Trump.
“Ketika aturan bisa ditekuk di bawah tekanan, setiap hasil pertandingan patut dipertanyakan,” tulis Berset. Sikap ini diperkuat oleh surat dari 72 anggota Parlemen Eropa yang meminta investigasi atas keterlibatan Infantino dalam kasus Balogun. Mereka menduga FIFA melanggar kode etik dan prinsip netralitas politik.
Usulan Kerangka Integritas Baru untuk 2030
Menghadapi masalah yang semakin kompleks, Berset mendesak FIFA segera membangun kerangka integritas baru sebelum Piala Dunia 2030 yang mayoritas digelar di Eropa. Ia mencontohkan langkah Dewan Eropa setelah tragedi Heysel 1985 yang menghasilkan perjanjian mengikat untuk keselamatan suporter, serta regulasi anti-doping dan anti-pengaturan skor.
“Kita perlu memulai dialog kerja malam ini juga,” ajak Berset. Ia menekankan bahwa pekerjaan memperkuat integritas olahraga tidak bisa ditunda, terutama dengan semakin maraknya taruhan di setiap sisi pertandingan. Dewan Eropa sendiri sebelumnya telah menjalin nota kesepahaman dengan FIFA pada 2018, namun kritik terbuka seperti ini tetap jarang terjadi.
Dukungan Politik untuk Infantino
Meskipun diterpa banyak kritik, Infantino masih memiliki basis dukungan kuat. Lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA secara resmi mendukung pencalonannya untuk periode keempat pada Maret mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa citra FIFA tetap terbelah: di satu sisi dikecam karena FIFA judi dan politisasi, di sisi lain tetap didukung oleh mayoritas anggotanya.
Belum ada tanggapan resmi dari FIFA atas surat terbuka Berset. Namun, sebelumnya Infantino membela pencabutan sanksi Balogun sebagai keputusan independen komite disiplin berdasarkan fakta dan regulasi yang berlaku.
